Hallokarawang.com, Telukjambe – Sejumlah anak-anak korban perampasan tanah yang disengketakan petani blok Kutatandingan Kampung Kiarahayam Desa Wanajaya Kecamatan Telukjambe Barat Kabupaten Karawang dengan PT Pertiwi Lestari (Salim Group), kini menderita trauma yang berkepanjangan.

Trauma itu disebabkan, oleh tindakan refreshif aparat kepolisian yang secara membabi buta, mengusir petani dari tanah dan tempat tinggalnya, saat terjadinya penguasaan tanah secara paksa oleh pihak PT Pertiwi Lestari beberapa waktu silam.

Aparat Kepolisian dan Ormas yang diduga preman bayaran PT Pertiwi Lestari, sengaja ditanam sebagai centeng penjaga modal, yang diseragami pakaian security. Bersama-sama menyisir rumah-rumah petani, bahkan mengobrak-ngabrik seluruh isi rumah petani.

Ratusan petani dipaksa untuk meningalkan harta bendanya dengan kondisi memprihatinkan, akibat tindakan tidak manusiawi yang dipertontonkan aparat negara terhadap rakyatnya.

Salah satunya, Laswati bocah delapan tahun yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar, terpaksa harus meninggalkan bangku sekolahnya akibat mengalami trauma berat. Ia mengalami tramua ketakutan yang mendalam terhadap wujud aparat Kepolisian.

Bocah yang mengaku secara langsung menyaksikan kekejaman aparat saat orang tua laki-lakinya, Oman diciduk aparat berwenang.

Bahkan diperlakukan layaknya binatang, diseret dan dipukul hingga tersungkur dan kiriminalisasi dijebloskan kepenjara.

Selama masa sidang berlangsung Laswati dengan didampingin sang ibu yang bernama, Sanem dan puluhan keluarga petani lainya yang mengalami nasib sama.

Tidak pernah absen mengikuti perkembangan persidangan sang ayah. Meski belum begitu paham dengan apa yang sedang dialami.

Laswati dengan raut wajah polosnya mecoba tegar, jika melihat sang ayah dihadapkan ke meja hijau, namun air matanya sesekali jatuh juga, tatkala sang ayah kembali digiring menuju mobil tahanan.

Kembali menuju lapas, merasakan dinginnya dinding penjara, demi menanti sebuah keadilan di bumi lumbung padi.

Sejatinya sebelas petani yang kini dikriminalisasi, secara nyata bukan berwatak penjahat. Mereka hanya berjuang mempertahankan tanahnya yang terampas demi melanjutkan hari depan kehidupannya sebagai kaum tani. Mereka juga butuh diangkat harkat dan martabatnya sebagai kelas tani, yang mempunyai hak untuk medapatkan kesejahteraan di bumi pertiwi. (hil)