Oleh : H. Ahmad Zamakhsyari,

BERBAGAI macam ekspresi kegembiraan ditunjukan oleh segenap lapisan masyarakat, dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-70. Atau bagi masyarakat yang merasa belum merdeka dari segi ekonomi, tangis haru masih mengiringi perjalanan lapisan masyarakat kita, khususnya di Kota Pangkal Perjuangan tercinta.

Ya Kota Karawang, kota bersejarah dari awal mulanya Soekarno dan Hatta diculik oleh sekelompok pemuda yang tergabung dalam “Menteng 31”, untuk mempercepat teks proklamasi pada 16 Agustus 1945 lalu.

Sebagai warga asli Karawang, tentu kita patut berbangga, karena tanah Karawang tercinta ini telah menjadi saksi sejarah kemerdekaan RI. Namun pertanyaannya, sampai sejauh mana kita telah mengisi hasil kemerdekaan itu sendiri. Karena faktanya, masih ada segelintir kelompok masyarakat, khususnya masyarakat Karawang yang merasa belum merdeka dari sisi ekonomi.

Melawan lupa, ya itulah kalimat yang tepat yang ingin saya ungkapkan dalam kesempatan HUT Kemerdekaan RI ke-70. Karena bagi saya arti “merdeka” itu sendiri adalah kebebasan masyarakat untuk mendapatkan haknya. Termasuk mendapatkan hak penghidupan yang layak dari sisi ekonomi (pekerjaan).

Di satu sisi, konon peralihan masyarakat pertanian ke masyarakat industri di Kota Pangkal Perjuangan memiliki keuntungan tersendiri bagi masyarakat, khususnya dalam memberikan kesempatan lapangan pekerjaan bagi warga lokal.

Namun di sisi lain, metamorposis pertanian ke industri tersebut menjadi momok persoalan baru bagi pembangunan di Kota Karawang tercinta ini. Karena lagi-lagi faktanya, Perda Ketenagakerjaan Nomor 1 Tahun 2011 yang mewajibkan 60% warga lokal dan 40% warga luar Karawang belum bisa menjadi menjadi produk hukum kebanggaan masyarakat Karawang, khususnya dalam memberikan hak pekerjaan bagi masyarakat Karawang.

Berkaitan dengan Pilkada Karawang, harapan masyarakat untuk mendapatkan pemimpin yang mampu membawa kesejahteraan ekonomi yang lebih baik tentu menjadi salah satu mimpi dari sejak dulu. Sehingga saya berpendapat jika Karawang ke depan harus dipimpin oleh orang-orang yang mengetahui dan paham akan “isi perut Karawang”.

Karawang ke depan harus dipimpin oleh orang yang tegas, jujur, amanah serta memiliki karakter tentang “ke-Karawang-an”. Sehingga atas dasar ke-Karawang-an inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa saya harus maju menjadi salah saru cawabup di Pilkada Karawang.

Karena sebagai warga lokal, “gereget” untuk membawa pembangunan Karawang yang lebih baik tentu sudah menjadi cita-cita saya sejak dulu.

Karena saya berkeyakinan, “setiap zaman ada masanya, setiap masa ada pemimpinnya”. Termasuk saya berkeyakinan jika sebenarnya masyarakat asli Karawang “lebih mampu” untuk memimpin tanah kelahiran tercinta ini. Karena memimpin dengan hati akan selalu lebih baik, ketimbang memimpin untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok.

Selanjutnya, sebagai salah satu alumni santri yang belajar keagamaan selama 9 tahun di Pondok Pesantren Cipasung, serta santri Sunanul Huda Sukabumi selama 3 tahun lamanya, tentunya sebagai warga lokal Karawang saya memiliki harapan lebih terhadap pembangunan Karawang yang berbasis iman dan taq’wa.

Sehingga politik kebijakasan santri untuk APBD Karawang ke depan harus mampu menciptakan pembangunan yang berbasis kepentingan agama. Dari mulai mengganggarkan APBD untuk kemakmuran masjid, honor untuk ustadz atau guru ngaji, sampai dengan Rp 20 miliar untuk anak yatim dan jompo. Karena saya masih berkeyakinan jika do’a yatim dan jompo yang telah diberikan haknya akan membawa pembangunan Karawang ke depan yang lebih baik, lebih berkah, baldatun toyyibatun’warobungofur, aamiin.

Kembali ke persoalan “melawan lupa”, pada kesempatan HUT Kemerdekaan RI ke-70 ini, saya ingin mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk tidak bosan dalam mengawal setiap kebijakan yang dikeluarkan Pemkab Karawang. Karena “Karawang nu urang, maka maju mundur na kumaha urang”.

Khusus dalam konteks politik, saya juga ingin mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus mengawasi prosesi ataupun tahapan Pilkada Karawang yang tinggal menghitung hari.

Karena pelaksanaan demokrasi yang jujur, adil dan demokratis sudah barang tentu akan mencerminkan masyarakat pancasialis. Yaitu masyarakat yang cinta akan kejujuran dan semangat gotong royong di dalam mewujudkan cita-cita pembangunan Karawang yang lebih baik ~ H. Ahmad Zamakhsyari, adalah Ketua DPC PKB Karawang/Cawabup Pilkada Karawang.