1. Candi Jiwa dan Candi Blandongan di Situs Batujaya

Pada tahun 1984 Situs Batujaya ini pertama kali diteliti oleh tim arkeologi dari Universitas Indonesia berdasarkan adanya laporan dari masyarakat sekitar tentang penemuan benda-benda peninggalan purbakala disekitar gundukan-gundungan tanah yang berda ditengah-tengah sawah milik penduduk.

Kemudian, penelitian yang sebenarnya baru dilakukan pada tahun 1992 hingga tahun 2006, dan berhasil menemukan 31 tapak situs sisa-sisa bangunan (Takaria, 2007).

Sampai pada tahun 2000 dari hasil penelitian yang dilakukan baru ada 11 buah candi yang berhasil diteliti oleh para arkeolog, meskipun masih memiliki banyak fakta yang belum terungkap seperti kronologi, sifat keagamaan, bentuk dan pola percandian, menurut dugaan candi-candi tersebut merupakan bangunan candi tertua didaerah Jawa, yang diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara pada Abad ke 15 Masehi.

Berdasarkan pada hasil penemuan candi-candi tersebut, yang menarik disini adalah setiap bangunan candi yang ada di Situs Batujaya semuanya menghadap ke arah yang sama, yaitu 50 derajat dari arah utara (Takaria, 2007).

2. Situs Cibuaya

Dari seluruh bangunan candi yang ditemukan di Situs Cibuaya yang paling menarik adalah bangunan candi di Lemah Duhur Lanang. Bangunan yang dibuat dari bata ini berdenah hampir bujursangkar dengan ukuran 9 × 9,6 meter dan tinggi dua meter, menghadap ke arah barat laut dengan tangga berukuran lebar 2,2 meter.

Bagian fondasinya dibuat dari pecahan bata yang bercampur dengan kerikil dan batu kali. Bagian puncak runtuhan bangunan Lemah Duhur Lanang terdapat sebuah lingga yang masih berdiri in-situ, lingga ini berukuran tinggi 111 cm dan bergaris tengah 40 cm. Bentuk lingganya sendiri bukan merupakan bentuk lingga yang sempurna (lingga semu) karena tidak memiliki bagian yang berdenah segi delapan (wisnubhaga).

Bagian yang ada hanya yang berdenah persegi (“brahmabhaga”) dan bundar (“rudrabhaga”). Dengan ditemukannya lingga dalam konteksnya dengan bangunan suci dan arca Wisnu yang ditemukan di dekatnya, dapat disimpulkan bahwa bangunan Lemah Duhur Lanang adalah bangunan suci untuk pemeluk agama Hindu (Karim, 2010).

3. Masjid Agung Karawang dan Makam Syekh Quro

Syekh Hasanudin atau lebih dikenal dengan sebutan Syekh Quro merupakan penyebaran agama Islam ke Nusantara dan berlabuh pertama kali di pelabuhan Cirebon dibawah pengawasan Ki Gedeng Tapa.

Namun usahanya untuk terus melakukan dakwah di cegah oleh kepemimpinan Raja Padjajaran yang kala itu di pimpin oleh Prabu Angga Larang, dan untuk menghindari pertumpahan darah, Syekh Quro memutuskan untuk meninggalkan pulau Jawa dengan bertolak ke Malaka.

Oleh Ki Gedeng Tapa, Syekh Quro dititipkan putrinya yang baru berusia 12 tahun untuk menimba Ilmu Agama Islam, putri Ki Gedeng Tapa ini bernama Nyi Subang Larang. Setelah ia berhasil mengislamkan daerah Malaka, Syekh Quro bersama muridnya, Nyi Subang Larang memutuskan kembali ke daerah Jawa melalui ujung Karawang, menyusuri Sungai Citarum dan menambatkan perahunya di Pelabuhan Karawang yaitu Bunut Kertayasa (Saat ini dikenal sebagai Kampung Bunut).

Syekh Quro kemudian meminta izin kepada penguasa setempat untuk mendirikan bangunan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat pendidikan (mengaji), tempat tersebut dikemudian hari dikenal sebagai Pesantren Quro (Saat Ini dikenal sebagai kawasan Masjid Agung Karawang) pada tahun 1418 Masehi.

Dalam semaraknya penyebaran Agama Islam oleh Wali Songo, maka masjid yang dibangun oleh Syeh Quro, kemudian disempurnakan oleh para Ulama dan Umat Islam yang modelnya berbentuk “joglo” beratap 2 limasan, hampir menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon (Sejarah Masjid Agung Karawang, 2004).

4. Bendungan Parisdo atau Bendungan Walahar

Bendungan Parisdo atau Walahar terletak di Desa Walahar Kec. Ciampel, dengan tujuan menopang deras air sungai Citarum untuk mencegah banjir di wilayah Utara Kabupaten Karawang dan mengairi persawahan Wilayah Karawang dan Wilayah Subang.

Bendungan ini mulai difungsikan digunakan sejak tanggal 30 November 1925. Bendungan ini mulai dibangun pada masa penjajahan Portugis yang kemudian dilanjutkan pada masa penjajahan Belanda.

5. Monumen Rawa Gede

Monumen ini didirikan pada tahun 1996 untuk mengenang Pembantaian Masal yg menewaskan + 431 orang warga sipil pada tahun 1947 oleh Belanda. Monumen Rawagede terletak di Desa Balongsari, Kec. Rawamerta, Kab. Karawang, Jawa Barat.

Sebelum Persetujuan Renville ditandatangani, tentara Belanda dari Divisi 1 yang juga dikenal sebagai Divisi 7 Desember, terus memburu laskar-laskar Indonesia dan unit pasukan TNI yang masih mengadakan perlawanan terhadap Belanda.

Dalam operasinya di daerah Karawang, pada tanggal 9 Desember 1947 tentara Belanda dipimpin seorang Mayor mencari Kapten Lukas Kustario, komandan kompi Siliwangi kemudian menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi yang berkali-kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda mengepung desa Rawagede dan menggeledah setiap rumah.

Mereka kemudian memaksa seluruh penduduk keluar rumah masing-masing dan mengumpulkan di tempat yang lapang. Penduduk laki-laki diperintahkan untuk berdiri berjejer, kemudian mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang Republik.

Perwira Tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja dan bahkan ada yang baru berusia 11 dan 12 tahun (Permatasari, 2012).

6. Rumah Soekarno – Hatta

Rumah Soekarno – Hatta sebenarnya merupakan rumah dari Djiaw Kie Siong, berada di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Rumah ini dulunya merupakan tempat Presiden RI Ir. Soekarno dan Wakilnya Bung Hatta disekap oleh pemuda-pemudi Indonesia pada tanggal 16 Agustus 1945 untuk kemudian dipaksa menandatangani naskah Proklamasi yang dideklarasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dalam rumah yang berukuran sekitar 12 X 12 m ini terdapat dua kamar tidur satu ruang pertemuan, kamar sebelah kiri merupakan tempat tidur Bung Hatta dan sebelah Kanan tempat tidur Ir. Soekarno, yang didalamnya terdapat tempat tidur dari kayu jati yang cukup besar.

7. Tugu Kebulatan Tekad

Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok dibangun untuk mengenang tentang kebulatan tekad para pemuda, pejuang serta tokoh-tokoh Bangsa Indonesia untuk merebut dan melepaskan Tanah Air dari kungkungan penjajah guna menuju Negara yang merdeka melalui jalur Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945.

Tugu ini dibentuk dengan motif tangan kiri yang mengepal tinju diartikan untuk melawan, sedangkan tangan kanan tidak dilukiskan karena memegang senjata atau bambu runcing.

SALAM REDAKSI : Jika para pembaca, punya tulisan kisah legenda atau cerita/dongeng dari orang tua/karuhun/kokolot mengenai peninggalan sejarah atau asal-usul nama tempat/kampung di Bogor, yuks berbagi cerita dengan Hallokarawang.com. Kisah legenda dapat dikirimkan via email: redaksihallo@gmail.com, atau via SMS/WA: 081915557788)