Hallokarawang.com, Karawang – Sejak awal Agustus lalu, situasi sejumlah desa di kecamatan Telukjambe barat, kabupaten Karawang, sedang membara akibat konflik agrarian. PT Pertiwi Lestari, yang disokong penuh oleh aparat kepolisian, terus mencaplok lahan milik petani.

Akibatnya, beberapa kali terjadi benturan antara petani dengan aparat kepolisian dan pihak perusahaan. Namun dua hari lalu, Presiden Joko Widodo menyerukan percepatan reforma agraria di Indonesia.

Tujuannya, kata Presiden, untuk keadilan bagi masyarakat dalam penguasaan, kepemilikan, dan pemanfaatan tanah serta sumber daya alam yang ada di dalamnya. “Saya minta kementerian dan lembaga terkait melakukan langkah-langkah percepatan implementasi dari reforma agraria,” ujar Jokowi, seperti dikutip Halloapakabar.com.

Pada hari yang sama, perwakilan petani yang tergabung dalam Serikat Tani Telukjambe Bersatu (STTB) bertemu dengan Deputi V Kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodharwardani. Di situ adukan berbagai persoalan yang dialami petani.

Namun, pada hari Kamis (25/8/2016), sehari setelah Presiden menyerukan percepatan reforma agraria, aparat Brimob justru disiagakan di daerah konflik di desa Kiara Hayam, desa Margakaya.

Bersamaan dengan itu, berhembus isu bahwa perusahaan bersama 1500 aparat kepolisian akan melakukan penggusuran paksa pada tanggal 29 Agustus 2016. Tidak hanya itu, alat berat perusahaan mulai masuk kampung, tetapi berhasil dihalau oleh petani.

Tidak hanya itu, pada hari yang sama, seorang petani anggota STTB, Madhari, diculik oleh orang-orang yang mengenakan topeng. Dia sempat diancam dibunuh jika tidak keluar dari STTB. Madhari kemudian dilepas di sebuah tempat yang jauh dari kampung halamannya.

“Hari ini petani diliputi rasa khawatir. Jangan sampai kampung dan lahan penghidupannya digusur. Tetapi kami tidak rela digusur begitu saja. Kami akan melawan,” kata Ketua STTB, Maman Nuryaman, Jumat (26/8/2016).

Menurut Maman, apa yang dialami oleh petani Karawang ini merupakan ujian bagi komitmen Presiden Jokowi untuk menjalankan reforma agraria. “Kalau Pak Jokowi memang komitmen dengan reforma agraria, tolong perhatian nasib petani Karawang. Mereka butuh mempertahankan tanahnya untuk hidup,” jelasnya.

Maman pun berharap, agenda reforma agraria yang didengunkan oleh Presiden Jokowi jangan berhenti sebatas retorika saja, apalagi janji manis untuk mengilusi petani. (chy/rdp)