Oleh: Eulis Jamiatussalamah

Hallokarawang.com – Siapa yang tidak tahu Mesjid Agung Karawang? Bangunan yang berdiri tegak di tanah seluas 35 x 35 meter ini didirikan tahun 1418 M oleh Syekh Hasanudin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Quro. Lokasi di wilayah sekitar alun-alun Karawang mempermudah orang dalam mencarinya. Mesjid Agung Karawang adalah mesjid tertua di Pulau Jawa. Yang kemudian disusul oleh Mesjid Agung Cirebon, didirikan oleh Sunan Gunung Jati tahun 1475 M, dan mesjid Agung Demak, didirikan oleh Sunan Kali Jogo tahun 1477 M.

Menurut keterangan Bapak K.H. Abdul Fattah Memed, Kasi Ibadah Dewan Kerja Mesjid (DKM) Mesjid Agung Karawang, kegiatan keagamaan sebagian besar masyarakat Karawang dilaksanakan di Mesjid tersebut.

“Dalam seminggu mesjid ini tidak pernah sepi kegiatan, walau sebagian besar kegiatannya dilaksanakan malam hari dan dikhususkan untuk bapak-bapak. Di hari Sabtu, barulah giliran ibu-ibu. Sedangkan di setiap hari-hari besar kegiatan di Mesjid ini bisa lebih ramai. Misalnya, pada Bulan Ramadhan selalu diadakan Pesantren Ramadhan.” Kata ayah dari sembilan orang anak kepada wartawan hallokarawang.com,minggu (03/12/2015) Kepada Hallokarawang.com.

Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ma’hadul Islam ini juga menjelaskan secara rinci mengenai sejarah didirikannya mesjid agung gubahan Syekh Quro di tanah Karawang. Sejarah Mesjid Agung Karawang Nama Karawang berasal dari Bahasa Sunda Karawa-an. Nama sebuah kesatuan wilayah dan juga nama satu diantara pelabuhan yang terletak di tepi kali Citarum pada masa pemerintahan Kerajaan Pajajaran.

Saat itu, pelabuhan Karawang menjadi pelabuhan penting. Hal ini dikarenakan posisi Karawang yang berada di sepanjang kali Citarum menjadikan daerah tersebut sebagai jalur utama perdagangan. Pelabuhan Karawang dengan berbagai kegiatannya membawa rombongan Syeh Quro  singgah. Syekh Quro berasal dari Champa (Kamboja), pada saat itu ia pergi ke Karawang bersama para pedagang Gujarat (India). Kali ke dua Syekh Quro berkunjung ke Pulau Jawa, tepatnya pada tahun 1418, beliau membangun mushola, yang sekarang menjadi Mesjid Agung Karawang. Di sinilah Syekh yang bernama asli Syekh Hasanudin menyebarkan ajaran Islam dan mendirikan sebuah pesantren.

Mengetahui hal tersebut, raja Pajajaran, Prabu Angga Larang mengutus putra mahkotanya, Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren yang didirikan Syekh Quro. Ketika sang putra mahkota tiba ke tempat yang dituju, dia mendengar merdunya suara Nyi Subang Karancang (Nyi Subang Larang) yang tengah melantunkan ayat-ayat al-Quran. Akhirnya, Raden Pamanah Rasa mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren, tempat Nyi Subang Larang menimba ilmu. Tanpa ragu-ragu Raden Pamanah Rasa menyatakan isi hatinya untuk mempersunting Nyi Subang Larang.

Lamaran diterima dengan syarat mas kawin “Bintang Saketi” (bintang-bintang yang dibuat seperti tasbeh). Dalam suatu riwayat dijelaskan, dengan kesaktiannya, Raden Pamanah Rasa ini berhasil mengambil bintang-bintang yang disyaratkan. Namun, bintang-bintang yang “dipetiknya” jatuh di Kota Mekah. Ketika putra dari raja Pajajaran tersebut terbang untuk mengejarnya, dia terhalang. Sang putra mahkota tidak mampu masuk ke wilayah Mekah karena ada seorang penjaga. Satu-satunya “kunci” agar dia dapat masuk ke sana adalah syahadat. Raden Pamanah Rasa kemudian membaca syahadat, dan akhirnya dia dapat masuk ke wilayah Mekah dan mengambil bintang-bintang yang kemudian berubah menjadi tasbeh.

Oleh karena itu, dalam sumber lain menyatakan bahwa, syarat yang diajukan sebagai maskawin adalah sebuah kiasan agar Raja Pajajaran yang diberi gelar Perabu Siliwangi ini masuk Islam. Tidak lama kemudian, pernikahan pun dilaksanakan, di mushola Syeikh Quro. Syekh Quro sendiri yang bertindak sebagai penghulunya. Dari pernikahan itu, lahirlah tiga orang putra. Putra pertamanya bernama Raden Walangsungsang, yang kedua bernama Raden Nyi Rara Santang dan si bungsu bernama Raden Kian Santang. Raden Walangsungsang dan Raden Nyi Rara Santang setelah melewati usia remaja, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran untuk mendapat bimbingan dari Ulama Besar yang bernama Syeh Dzatul Kahfi di Paguron Islam Cirebon.

Setelah itu, keduanya menunaikan ibadah haji. Sedangkan Raden Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Mubaligh dan menyebarkan Agama Islam di daerah Garut. Sepulangnya dari ibadah haji, Raden Walangsungsang memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang (Cirebon) bergelar Pangeran Cakrabuana . Sedangkan Raden Nyi Mas Rara Santang ketika di Mekah dipersunting oleh Sultan Mesir, Syarif Abdillah.

Raden Nyi Rara Santang kemudian berganti nama menjadi Syarifah Muda’im. Dari pernikahannya dengan Syarif Abdillah, Raden Nyi Rara Santang dikaruniai dua orang putera, masing-masing bernama Syarif Hidayatullah, dan Syarif Nurullah. Setelah Syarif Abdillah meninggal dunia, jabatan sultan diserahkan kepada putranya, Syarif Nurullah, sebab Syarif Hidayatullah setelah menimba ilmu Agama yang luas dari para Ulama Mekah dan Bagdad bertekad untuk menjadi Mubaligh di Cirebon. Tahun 1475, Syarif Hidayatullah bersama ibunya berlayar ke Cirebon. Setibanya di sana, mereka disambut oleh Pangeran Cakrabuana atau pangeran Walangsungsang yang tak lain adalah kakak dari Raden Nyi Mas Rara Santang. Syarif Hidayatullah kemudian dipercaya untuk menggantikan Pangeran Cakrabuana untuk memimpin Cirebon, dengan gelar Susuhunan atau Sunan. Syarif Hidayatullah ini kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.