Hallokarawang.com, Warung Bambu – Menjadi narapidana di usia senja dengan masa hukuman belasan tahun, jelas bukan impian siapa pun.

Penyakit khas orang tua, rasa rindu ditemani sanak saudara, dipastikan menjadi pil pahit yang kerap dirasakan, saat melihat dinding menjulang tinggi pemisah antara kehidupan luar dengan penjara. Hanya satu permintaan yang kerap mereka panjatkan setiap selesai beribadah, yaitu memperoleh remisi saat perayaan hari-hari besar.

Seperti yang dirasakan oleh Ujang Zulfikor Bin Abdullah. Kakek tua pensiunan PNS berusia 76 tahun ini divonis 15 tahun penjara, karena membunuh kakak mertuanya sendiri beberapa tahun silam.

Mantan petugas Satpol PP di Bandar Lampung yang diketahui warga Perumahan Bintang Alam, Desa Telukjambe, Kecamatan Telukjambe Timur, ini merupakan warga binaan di lapas Kelas II A Karawang sejak tahun 2006 silam.

Ia divonis 15 tahun penjara oleh pengadilan karena telah membunuh saudaranya sendiri, dengan cara menggorok leher korbannya.

Tak banyak aktivitas yang ia kerjakan selama mendekam di dalam lapas. Ia mengaku menghabiskan waktu sehari-hari hanya berdiam di dalam masjid, baca Alquran, dan wirid kepada Allah SWT. Bahkan ia mengaku tidak pernah meninggalkan salat wajib lima waktu, dan salat sunat seperti duha dan tahajud.

“Kalau pagi olahraga, keliling lapas, ke masjid, terus makan, ya ke masjid lagi,” ujar kakek tua yang mengaku sudah punya istri empat ini di Karawang, Kamis (13/8)

Bahkan selama mendekam di dalam lapas, Ujang mengaku sering mendapatkan remisi seperti di hari lebaran dan hari besar lainnya.

Secara pribadi Ujang mengaku menyesali segala perbuatannya, yang telah menghilangkan nyawa saudaranya sendiri.

Ujang tidak dapat menyembunyikan rasa kesedihannya, tatkala ditanya mengenai siapa sosok yang paling dirindukannya selama mendekam di dalam lapas. Dengan nada tegas, kakek bercucu empat ini mengatakan, bahwa itu adalah anaknya yang baru masuk bangku sekolah dasar beberapa waktu lalu bernama Zulkarnaen.

“Anak bungsu saya yang paling saya rindukan, dia baru tahu bahwa ayahnya itu saya. Kemarin waktu lebaran dia dibawa ke sini. Bahkan anak saya menangis di pelukan saya,” ungkap Ujang dengan nada terbata-bata menahan air matanya.

Sementara anak-anaknya yang lain, menurut Ujang, semuanya sudah berumur dewasa dan sudah memiliki keluarga masing-masing di daerah Lampung dan Palembang.

Karena Ujang sendiri merupakan pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Satpol PP di Bandar Lampung. Ia bertugas menjadi anggota Satpol PP selama 32 tahun. Sementara saat terjadi pembunuhan, ia sudah pensiun dan datang ke Karawang untuk menghabiskan masa tuanya bersama keluarga.

Ujang mengaku pasrah jika ia harus menghabiskan sisa umurnya di penjara. Hal itu, kata dia, sebagai bentuk tanggung jawab dirinya karena telah membunuh nyawa orang.

Kini ia hanya berharap seluruh keluarga besar termasuk ke-12 anaknya yang berada di Lampung dan Palembang, mau memaafkan ayahnya yang telah berdosa menjadi seorang pembunuh.

Saat ini Ujang tinggal di kamar lapas bersama 18 orang napi lain. Ia mengaku sangat diperlakukan dengan baik selama mendekam di dalam Lapas Kelas II A Karawang.

“Saya harus kuat sampai enam tahun kedepan, saya juga terus menjaga kesehatan saya tidak mau minum kopi, tidak merokok,” katanya.

Sementara Kasi Pembinaan Narapidana Lapas Kelas II A Karawang Heri, juga membenarkan bahwa selama mendekam di lapas, Ujang selalu bersikap baik dan rajin ibadah. Bahkan kata Heri, Ujang bisa dikatakan napi yang paling rajin ibadah dan rajin berolahraga. “Dia sudah tua rajin ibadah juga olahraga,” kata Heri. (roy)