Hallokarawang.com, Karawang – Saat ini pandangan masyarakat terhadap istilah Goyang Karawang selalu bertendensi pada erotisme. Hal itu dimungkinkan mengingat begitu banyaknya praktik pertunjukkan seni hiburan yang banyak menonjolkan erotisme dan sensualitas berlebih seperti saat ini menjelang HUT RI ke 70.

Biasanya pertunjukan-pertunjukan yang digelar berupa konser music dangdut. Di mana di dalamnya sangat sarat akan pengadopsian gerakan-gerakan tarian jaipong atau banjet yang sudah sedemikian rupa dimodifikasi.

Pada tataran ini unsur mistik dan ritual sudah tidak diindahkan. Bahkan sudah tidak menjadi prioritas. Tidak ada pakem khusus yang mengendalikan.

Perpaduan antara seni pertunjukan modern dan tradisional begitu luar biasa. Tidak ada batasan antara pelaku seni dan penikmat seni. Semua terlibat dalam pertunjukan. Semua bebas mengekspresikan dirinya.

Tidak jarang idiom-idiom “nakal” menjadi penyedap pertunjukan, yang banyak menjadi bagian dalam lirik lagu-lagu dangdut pop. Tidak cukup sampai di situ. Penyerapan unsur kesenian dandut modern juga terjadi pada kesenian jaipong.

Saling pengaruh dan “memperkaya” ini menjadi kecenderungan yang tidak bisa dihindari dan tidak terpisahkan dalam kultur masyarakat kontemporer di Pesisir Utara Jawa Barat, terutama Karawang.

Kondisi di atas begitu dominan, sehingga menyita pemikiran masyarakat. Paradigma yang sudah terlanjur jungkir balik ini diperparah lagi dengan cara generasi muda Karawang dalam mengidentifikasi produk kebudayaan mereka.

Sangat jarang pemuda Karawang dan sekitarnya yang bisa langsung menangkap maksud sesungguhnya dari istilah “Goyang karawang”. Bahkan mereka langsung mengidentikannya dengan pemahaman umum yang ada saat ini.

Goyang Karawang adalah erotisme rendah dan sensualitas berlebih dari para pelaku seni di atas panggung pertunjukan. Goyang Karawang yang sesungguhnya, yaitu suatu semangat dan gairah pembangunan masyarakat kota melalui stimulus seni tradisional lokal yang dekat dan akrab dengan keseharian dan saling terkait dengan aspek sosial, budaya dan ekonomi lokal.

Semua pemahaman dasar yang seharusnya diwariskan tersebut kini gagal diserap. Semua ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa masyarakat Karawang khususnya atau Indonesia umumnya yang lalai terhadap akar budaya lokal.

Permasalahan tampaknya bagai bergulirnya bola salju yang terus membesar. Kini kelompok-kelompok pelaku seni tradisional lokal mengalami kondisi yang memprihatinkan.

Paling tidak, itu yang dialami sebagian besar dari para pelaku kesenian tradisional Karawang. Penurunan intensitas pertunjukan dan berkurangnya minat masyarakat terhadap pertunjukan ini menjadi faktor utama.

Selain itu sedikitnya kaderisasi menjadi masalah lainnya yang siap menerkam kesenian seperti Topeng Banjet. Kurang memikatnya kesenian ini di mata generasi penerus bisa jadi mempengaruhi pola pikir mereka. Bahkan tidak jarang muncul pertanyaan apakah masih relevan mempelajari kesenian ini, mengingat publikasi yang sangat sedikit dan manfaat yang sangat jarang.

Dengan kata lain, sebenarnya para generasi penerus berada pada persilang pemikiran. Mereka bertanya, beri kami alas an untuk mempelajari kesenian tradisional.

Pemerintah Karawang seharusnya mengambil peran strategis. Baik sebagai penyangga kesenian mapun penyandang kesenian.

Penyangga, dalam hal ini adalah sebagai pihak yang menjadi garda terdepan dalam pengembangan kesenian. Penyandang, dalam hal ini adalah penyedia fasilitas dan dana yang bisa memberi kemudahan dalam ruang gerak, akses dan aktivitas para pelaku seni.

Pemerintah setempat juga seharusnya bisa memberikan pencerahan dan publikasi yang memadai tentang berbagai produk budaya local. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengidentifikasi budaya mereka.

Masyarakat juga bisa mengakses informasi resmi dengan mudah. Sehingga semua berjalan secara simultan.

Masih belum lengkap kalau belum memasukkan seni hiburan modern. Unsur ini jelas banyak memberi sumbangan yang bagai pisau bermata dua. Publikasi yang luar biasa beberapa tahun ini tentang goyang karawang jelas membawa kesenian ini sebagai fenomena.

Sebut saja film layar lebar ARWAH GOYANG KARAWANG. Cerita dalam film ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesenian dan nilai-nilai luhur kebudayaan warisan leluhur Karawang. Sempat menjadi titik keresahan para pelaku seni Karawang, sehingga menimbulkan protes yang cukup serius.

Tapi film ini tetap mengemuka dan masyarakat tetap menikmatinya sebagai sebuah pertunjukan film horror-erotis. Belum lagi peranan kelompok-kelompok seni pertunjukan local yang turut membawa-bawa istilah Goyang Karawang dengan berbagai variasinya, juga turut memberi sumbangan atas penurunan pemaknaan.

Alhasil tentu saja penurunan pemaknaan terhadap istilah Goyang Karawang ini tidak bisa dihindarkan. Paling banter orang akan merapatkan Goyang Karawang dengan susuk, ritual sesajen dan aktivitas mistis yang tidak ada kaitannya dengan nilai luhur kesenian lokal sebagai produk budaya dan pemikiran nenek moyang. (D. Roy Wijaya, Wartawan Senior Hallokarawang.com)