Hallokarawang.com, Karawang – Angka golput pada Pilkada Karawang tahun ini, diperkirakan signifikan. Selain banyak warga kesulitan kartu tanda penduduk (KTP), golput juga akan dipengaruhi oleh sikap politik dari Serikat Petani Karawang (Sepetak) yang memilih tak akan menyuarakan suaranya pada pilkada tahun ini.

Sekretaris Umum Sepetak Engkos Koswara mengatakan, golputnya para petani di karawang, karena madih banyaknya persoalan yang terjadi di Karawang, mulai dari pertanian, ekonomi, sosial, industri dan lainnya.

Untuk sektor industri misalnya, di Karawang ada sekitar 1.479 perusahaan yang berdomisili di karawang saat ini, masih menyisakan sekitar 116 ribu pengangguran pada usia produktif.

Menurutnya, yang membuat tak habis pikir, pemerintah Kabupaten Karawang masih meyakini angka laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 1,44 persen dengan perkiraan 2.230.641 jiwa.

“Hal ini diyakini dengan signifikansi peranan sektor migas yang menyumbang 8,81 persen berikut level inflasi yang mencapai 8,87 persen. Namun semua itu, tetap terbantahkan oleh semakin meningkatnya angka kemiskinan di Kabupaten Karawang yang saat ini mencapai 60 persen dari sekitar 2,5 juta penduduk,” urai Engkos dalam siaran persnya kepada Halloapakabar.com di Karawang, Selasa (25/8)

Hal yang sama juga disampaikan, Ketua Sepetak Hilal Tamami mengatakan, pilkada dalam konteks demokrasi liberal saat ini, menegaskan kepada gerakan rakyat yang mencita-citakan suatu tatanan baru yang memiliki segi-segi hari depan bagi rakyat miskin sebagai suatu tantangan dimana kekuatan gerakan rakyat, buruh, tani, kaum miskin kota, pemuda dan mahasiswa hendak dikanalisasi ke dalam sistem  demokrasi prosedural, agar gerakan rakyat turut melegitimasi kekuasaan baru yang akan dilahirkan dari rahim pilkada juga melemahkan gerakan ekstra parlemen untuk menjadi gerakan elektoral.

“Pilkada Karawang yang akan digelar pada 9 Desember mendatang, adalah upaya borjuasi untuk mendaur ulang kekuasaannya demi kepentingan kelas borjuasi itu sendiri tentunya. Yaitu, kekuasaan yang mengedepankan kepentingan pengusaha, politisi dan partai politik berikut kelompok -kelompok kooperatifnya,” paparnya.

Diteruskannya, benar jika pemilu langsung, kebebasan berpendapat, berkumpul, berserikat, berorganisasi sudah dapat dirasakan oleh rakyat sejak 1998, sehingga tak sedikit kalangan yang menilai bahwa saat ini sedang berada di alam demokrasi.

“Namun sering kita jumpai fakta mengerikan, seperti dimana korupsi dilakukan oleh 49 anggota DPRD Karawang dan bupati serta istri. Fakta lain kemiskinan semakin meluas di Kabupaten Karawang ini, kerusakan alam semakin mencolok mata, pencemaran lingkungan seakan tanpa berkesudahan, pelanggaran atas hak dasar rakyat untuk memiliki tanah dan sebagainya,” ucapnya.

Bagi Sepetak, pilkada saat ini tak berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Atas alasan itulah Sepetak tak akan menyalurkan suaranya pada pilkada tahun ini.

“Bagi kami, pilkada saat ini sama sekali tidak berbeda dengan pilkada sebelumnya. Sama dengan pileg, pilpres dan sistem elektoral politik lainnya. Dengan demikian, atas keseluruhan gambaran situasi ekonomi dan politik tersebut di atas, maka kami Serikat Petani Karawang menyatakan golput dalam Pilkada Karawang 2015,” tegasnya. (drw)