Hallokarawang.com, Rengasdengklok – Beureum artinya merah yang melambangkan keberanian, maksudnya berani eksis dan menampilkan khas Sunda di mata masyarakat dengan saung dan budayanya.

Nuansa Sunda sudah terasa begitu kental ketika kita memasuki gerbang yang dipenuhi dengan saung-saung bambu yang sejuk.

Tak jauh dari Tanjungpura tepatnya di Desa Amansari kecamatan Rengasdengklok, kalau dari Tanjungpura terlihat gerbang warna merah yang penuh dengan pernak – pernik sarat budaya Pasundan.

Ranah Budaya sekaligus tempat memanjakan lidah yang patut dikunjungi jika ingin selalu memahami kearifan budaya lokal.

Dengan luas sekitar 3 ribu meter persegi ini, kita akan dibawa masuk ke sebuah pemahaman budaya yang selalu dijaga keharmonisannya.

Bagi pemiliknya, Saung Beureum adalah sebuah ranah budaya untuk mewariskan budaya leluhur Sunda buat generasinya tanpa bermaksud menggurui.

Beberapa saungnya pun diberi nama dengan nama-nama yang berbau Sunda seperti Saung Banjet, Kandaga Pustaka, Saung Pusaka Kahuruh dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bukan hanya saungnya yang kental dengan budaya lokalnya tetapi nama – nama kulinernya pun menggunakan bahasa Sunda.

Disini tidak akan ditemukan menu makanan ayam goreng dengan nama “fried chicken” karena semua menu yang ada adalah menu dengan nama-nama yang menggunakan bahasa Jawa Barat “Sunda” seperti beuleum hayam (ayam sambal kecap), goreng hayam haseum manis, sangu tutug oncom, goreng beulut, beuleum bawal.

Untuk minumannya pun tidak mau ketinggalan dengan menggunakan bahasa daerah Sunda seperti : dawegan es madu, kolek cau, kolek hui dan candil.

Menurut pemiliknya, yang akrab dipanggil dengan Abah Herman ini semua yang dilakukannya adalah untuk melestarikan budaya warisan leluhurnya.

“Jika bukan saya yang orang Sunda asli, lalu siapa lagi yang akan menjaga dan memberdayakan seni budaya Sunda ini ,” terang pria yang selalu mengenakan ikat kepala khas lelaki Sunda itu.

Berada di Saung Bereum Rengasdengklok ini, kita memang serasa berada di lingkungan tataran Sunda asli. Bahasa Sunda sangat kental dipergunakan untuk menyapa tamu yang datang, menawarkan menu dan mengucapkan terima kasih ketika kita meninggalkan Saung Beureum.

Sambil menikmati sajian menunya yang khas Sunda dengan sambal cobek yang terasa lain di lidah, pengunjung bisa menikmati beragam sajian budaya tanah Pasundan di area pentas yang terletak di halaman Saung Beuruem.

Nah! Bisa jadi referensi tujuan akhir pekan Anda dan sekeluarga kan ? Relax sejenak sambil mengenalkan khasanah budaya leluhur pada keluarga, di Saung Beureum lah tempatnya.

Ir. H. Herman El Fauzan, yang
Keukeuh dengan Budaya Pasundan

Mempunyai keinginan yang mulia yaitu supaya budaya Sunda tidak hilang karena arus modernisasi dan membuat tempat yang bisa dibuat kumpul sesama seniman tanah Pasundan ini.

Maka dibuatlah sebuah padepokan yang berfungsi sebagai tempat istirahat sambil menikmati kuliner Sunda yang kental dengan budaya Sunda seperti musiknya, keramahannya dan bahasanya, maka berdirilah sebuah “Saung Beureum “yang terletak di wilayah bersejarah “Rengasdengklok”.

Gagasan brilliant ini diwujudkan oleh putra asli Sunda yang juga alumnus ITB (Institut Teknologi Bandung ) tahun 1990, Ir. H. Herman El Fauzan.
Menurut pria yang selalu mengenakan baju khas Sunda ini, budaya Sunda tidak akan bisa dipertahankan kalau tidak diperkenalkan mulai dini oleh masyarakatnya sendiri kepada generasi mudanya.

Rasa cinta pada budayanya, tidak hanya diwujudkan dalam omongan saja tetapi dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh pria yang selalu berapi-api ketika membicarakan tentang budaya Sunda ini.

Berbagai kegiatan dilakukannya untuk lebih mengenalkan budaya Sunda mulai dari pakaian, kesenian, keramah tamahannya dan juga dengan kuliner-kulinernya yang tidak lepas dari budaya mojang priangan ini.

Namun, ada satu hal yang membuat Herman merasa asing di tanah leluhurnya sendiri yaitu orang akan memandang dengan pandangan mata yang aneh ketika melihatnya mengenakan baju khas daerah.

Hal inilah yang membuat pemilik Saung Beuruem ini berkeinginan untuk selalu mengenalkan budaya Pasundan pada masyarakat luas dan terutama pada generasi muda. Salah satu rencananya adalah membuat sekolah “TK Sunda”.

Satu keinginannya adalah memperlihatkan bahwa orang Sunda itu masih ada dan budaya Sunda tidak akan lekang oleh waktu digilas “westernisasi”.

“Makanya saya selalu tampil berani untuk selalu memperlihatkan dengan tindakan bahwa orang Sunda itu masih ada bahkan dengan keaslian budaya Sundanya,” terang Herman kepada Hallokarawang.com sambil memperlihatkan beberapa karya seni yang ada di Saung Beureum.

“Siapa lagi yang mencintai budaya sendiri kalau bukan masyarakat bangsa dan Negara itu sendiri,” kata Herman sambil mempersilahkan hallokarawang menikmati kuliner Saung Beureum yang sedari tadi memang sudah menggoda lidah kami. (eka)